Sungai Maut
MANGLI, BeritaJember.com- Anak-anak merupakan buah hati bagi setiap pasangan insan dalam membina bahtera rumah tangga. Anak merupakan tumpuhan hati dan buah hati orang tua. Anak adalah harapan orang tua di masa mendatang. Itulah kenapa dikatakan kasih sayang dan cinta orang tua kepada anak depat sepanjang jalan tidak baliknya, kasih sayang anak kepada orang tua hanyalah sepanjang galah, bukan sepanjang jalan.
Sangat terpukul sekali bila anak kesayangan telah tiada meninggalkan kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Apalagi meninggalnya anak mendadak. Seperti peristiwa yang dialami oleh Dimas Ahmad Rafael (8 tahun) anak dari pasangan Jailani dan Dian Sofiyana, warga desa Karang Melowo RT.02/RW.007. Peristiwa ini terjadi pada selasa, 01 maret 2016. Berawal dari pulang mengaji sekitar pukul 16.00 WIB (ba’da ashar) Dimas bermain dengan teman-temannya dikala hujan turun. Lokasi bermainnya di dekat sungai kecil yang bearada di karang Melowo, Mangli Jember.
Wahyu salah seorang saksi melihat Dimas dan teman-temannya bermain di pinggiran sungai kecil itu “Saat hujan turun Dimas dan teman-temannya bermain di samping sungai depan Graha Ulul Albab” katanya ketika menjadi relawan pencarian di hilir sungai maut itu. Sungai yang dikenal dengan nama DAM STAIN atau sungai pintu Doremon itu, sudah memamakan beberapa korban, pada tahun lalu cucu dari bu Tarjo juga tenggelam di sungai yang sama. Sebagaimana dikatakan buk Selly (64 tahun) warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai maut tersebut.
Keluarga kini masih sangat terpukul dengan peristiwa yang dialaminya. Dian sapaan akrab bunda Dimas sampai saat ini masih sangat terpukul dan selalu nagis histeris bahkan sampai tidak sadarkan diri. Sesekali bunda yang menjadi salah satu karyawati di fotocopi Proton itu membca istigffar doi sela-sela tangisan Histerisnya. Setiap tetangga yang datang berkunjung ke rumahnya dan membawa anak seumuran Dimas pasti dipeluk dan kemudian menangis lagi.
Sebelum hanyut di sungai Dimas masih berpamitan sama ibunya. “Ibu saya main dulu ya”. Cerita ibunya mengutip kata-kata dimas, lalu salaman dan tersenyum pada ibunya, sebagai senyuman terakhirnya” Ujar ibu satu anak itu. Kata-kata terakhir yang diingat Dian adalah ketika Dimas bilang kalau dia mau main di sekitar STAIN (kini IIAIN Jember).
Yang paling diingat Dian ketika ditanya tentang anaknya, dia bilang kalau hanya teringat pada saat melahirkan dan menemani mengerjakan pekerjaan rumah (PR) serta ngajarinya untuk menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal itu dilakukan oleh Dian setiap melem sehabis pulang kerja dalam kondisi capek.
Ibu korban (Dian) sangat berharap anaknya tetap ditemukan dalam kondisi apapun. “Minta tolong doanya dek,, saya ingin lihat Dimas untuk yang terakhir kalinya dalam kondisi apapun” ujarnya sambil memeluk tetangga yang datang mengunjunginya. Dia (Dian) sangat berharap adanya mukjizat dan menemukan Dimas selamat dan kembali bermain seperti dulu. “Saya berharap peristiwa ini hanyalah mimpi”. Tandasnya.
Kelurga, kolega, tetangga dan kerabat korban sangat merasa kehilangan. Sebab Dimas adalah sosok anak yang pinter, cerdas, baik dan tidak pernah nakal. Bahkan kalau Dimas mendatangi ibunya yang sedang bekerja di Proton untuk minta uang, pemilik fotocopi Proton langsung memberinya. “Dimas anak yang pintar dan rajin belajar kalau datang ke sini (Proton) minta uang ke ibunya saya langsung kasih” kata Dayat pemilik Fotocopi Proton tersebut.
Warga Karang Mluwo sangat berharap dan saling bantu untuk mencari Dimas. Terlihat sampai saat ini (Rabu, 2 Maret 2016, pukul 14.00 WIB) beberapa warga masih tetap menunggu di pinggir sungai berharap Dimas ditemukan. Menurut penuturan warga setempat Tim Sar dan pihak kepolisian setempat masih tetap terus menyusuri bantaran sungai bahkan sampai pada hilir sungai yang brada di Rowo Tamtu.
Penulis : CN
Editor : A’ank

Posting Komentar
Posting Komentar